Part 2

Lanjutan cerita dari http://kangikang.wordpress.com/2012/10/08/pemuda-harapan-bangsa/#more-124

Lalu saya dan Acun bergegas untuk bangun dan beranjak dari tempat tidurnya yang beralaskan daun pisang dan serpihan kardus – kardus bekas. Mereka juga tidak lupa untuk membangunkan kedua temannya yaitu Japar dan Nanda. Lalu Japar pun terbangun dari tidurnya yang sedang memimpikan kenangan indah di dalam hidupnya. Tetapi berbeda dengan Nanda, pemuda asal kota hujan ini sangat susah untuk dibangunkan. Mungkin karena hobinya yang suka tidur atau mungkin karena dia kecapean mengerjakan pekerjaan rumah yang sudah menjadi kewajibannya setiap hari.

Kami pun segera melaksanakan kewajiban kami terhadap sang Maha Pencipta. Kami bergegas untuk berangkat ke mushola. Saat dalam perjalanan menuju mushola, kami melihat putih – putih berjalan di kegelapan subuh. Lalu kami diam tanpa kata dan tak mampu untuk beranjak pergi dari tempat kami berdiri.

Tiba- tiba sesosok putih itu mengahampiri kami, dan ternyata itu adalah seorang laki – laki berwajah sangar dan bertubuh gemulai. Dia memakai mukena dan membawa sajadah panjang yang ingin melaksanakan sholat subuh juga di mushola yang kami tuju. Dia bertanya “mas – mas mau ke mushola juga ya? Bareng dong sama ekeee, iiih cucooo deh mas”. Kami pun tersentak kaget dan terperangah membuka mulut sambil bertatapan muka dan mengembuskan nafas bersamaan. Ternyata dia adalah wanita jadi – jadian.

Lalu kami meniggalkan dia dan berlari menuju mushola. Sesampainya di mushola, kami segera mengambil air wudu. Lalu saya terfikirkan tentang kejadian yang tadi, saya bertanya – tanya “bagaimana ya orang yang tadi kalau mau wudu, dia di tempat akhwat atau ikhwan?”. Tidak sengaja saya melihat dia sedang berwudu, ternyata dia berwudu dengan cara anggota tubuh yang bagian kanan dicucinya di tempat ikhwan dan anggota tubuh bagian kirinya di tempat ikhwat. Saya pun ingin tertawa terbahak – bahak, tetapi tidak bisa, karena saya sedang berada di mushola. Saya menahan tawa sambil menunggu giliran berwudu.

Tidak kuasa untuk menahan tawa, tiba – tiba ada hembusan dari belakang saya dan baunya sangat menusuk di dada. Teman – teman saya mulai gelisah dan bertanya – tanya “bau apakah ini? Baunya seperti ikan asin yang ditimbun bertahun –  tahun”. Saya langsung memasang wajah polos dan pura – pura bertanya “iya nih bau apa ya?”.

#RantaiCerita #DeklarasiKK

Untuk mengetahui cerita selanjutnya klik http://ondemandedotnet.wordpress.com/ “